Menuntut ilmu merupakan ibadah yang mulia dan terpuji. Dengan ilmu seseorang bisa mengenal dan beribadah kepada Robbnya dengan benar. Dan dengan ilmu juga manusia akan di tinggikan derajatnya oleh Alloh ta’ala. Alloh berfirman : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..[1]

Rasulullah saw juga mengabarkan bahwa ilmu adalah simbol sekaligus tanda kebaikan yang ada pada seorang hamba. Dalam sebuah hadits Nabi saw menyebutkan, “Barang siapa yang Allah kehendaki menjadi baik, maka Allah akan fahamkan ia terhadap urusan agama”.[2]

 

Pengertian Ilmu

Secara bahasa

Ilmu  secara bahasa adalah lawan kata bodoh/jahil.[3]

Bila dilihat dari makna istilah maka ilmu adalah mengetahui sesuatu sampai hakikatnya[4]. Pendapat lain mengatakan, ilmu adalah suatu sifat yang menyingkap (rahasia) sesuatu secara sempurna.[5]

Secara syar’i

Adapun makna ilmu secara syar`i,  Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah dan Imam Syatiby mengatakan bahwa ilmu adalah ilmu yang sesuai dengan amal, baik amal hati, amal lisan maupun anggota badan, sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Al Auza`i berkata:”Yang dinamakan ilmu adalah apa-apa yang datang dari para sahabat Nabi saw, adapun yang selain itu maka bukanah ilmu”.[6]

Sufyan Ats Tsauri berkata, ” Sesungguhnya ilmu adalah sesuatu yang dapat menimbukan rasa takut kepada Allah swt”.[7]

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu bila dilihat dari makna bahasa adalah lawan dari bodoh. Sedangkan jika dilihat dari sisi istilah adalah menyingkap sesuatu sehingga menjadi jelas hakikatnya. Dan bila ilmu dilihat dari dimensi dien/syar`i, maka ilmu adalah sesuatu yang bisa mengarahkan rasa takut kepada Allah, dan yang dimaksud ilmu ini hanyalah apa yang datang dari Nabi dan para sahabatnya.

Masyruiyyah Mencari Ilmu

Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk senantiasa mencari ilmu. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya dalil yang memerintahkan hal itu, baik dalil dari quran, hadis maupun ijma’.

Dalil dari al Qur`an:

a- Ayat pertama;

.”Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (kemedan perang). Mengapa tidak pergi tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam  pengetahuan mereka tentang dien dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” [1]

b- Ayat kedua;

Maka bertanyalah kalian pada orang yang berilmu, jika kalian tidak mengatahui[2]

Ayat di atas ini secara  implisit menunjukkan kepada kita atas wajibnya menuntut ilmu dan wajibnya  bertanya bagi seorang yang jahil (bodoh). Sebagaimana pula wajibnya segolongan umat untuk menuntut ilmu agar mereka bisa menjawab pertanyaan orang-orang bodoh ketika mereka bertanya.

 

Dalil  dari sunnah Nabi saw

 “Dari Anas bin Malik, dari Ibnu Abbas dan dari Ibnu Umar Radliyallahu ‘anhum berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.”[3]

Selain ayat-ayat dan hadits di atas, para ulama` juga banyak menganjurkan kita agar selalu menuntut ilmu syar`i.  Berikut diantara aqwal ulama yang menunjukkan pentingnya menuntut ilmu.

1.      Ad Darimi meriwayatkan dari Abu Darda bahwa ia berkata, “Belajarlah kalian semua sebelum ilmu itu diangkat, sesungguhnya ilmu itu akan diangkat dengan diwafatkannya para ulama`, dan seorang yang berilmu dengan orang yang belajar ilmu itu mempunyai pahala yang sama”. Ad Darimi juga meriwayatkan dari Abu Darda bahwa jika ia melihat orang-orang yang menuntut ilmu maka ia pun berkata, “Selamat datang wahai para penuntut ilmu, dan ia mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah saw telah mewariskan ilmu itu untuk kalian semua”.

2.      Khalid bin Ma`dan berkata, “Kebaikan hanyalah bagi orang yang berilmu dan orang yang belajar, sedangkan orang yang berada di antara keduanya (yang tidak berilmu dan tidak belajar) adalah orang yang hina dan tidak ada kebaikannya”.[4]

3.      Imam Al Bukhori berkata: “Ilmu itu (harus dimiliki) sebelum perkataan dan perbuatan, karena Allah berfirman: “Ketahuilah bahwa tidak ada Ilah kecuali hanya Allah.” [5]

4.      Ibrohim An Nakho`i berkata; “Barang siapa menuntut ilmu semata-mata karena Allah, niscaya Allah akan memberikan kepadanya apa-apa yang mencukupinya” [6]

 

Keutamaan Ilmu Dalam Al Qur’an

Banyak ayat dan hadits yang menerangkan keutamaan ilmu. Antara lain :

(1)- QS. An Nisa ;113

Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu. [7]

Ayat ini menerangkan keutamaan ilmu (telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui) dan mensifati ilmu sebagai sebuah karunia yang agung (telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui). Demikianlah, ilmu merupakan karunia agung yang telah diwariskan Allah Ta’ala kepada para nabi.

(2)- QS. Thaha 20 ; 114

 “ Dan katakanlah: “Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”[8]

Imam Ibnu Hajar berkata,” (Ayat ini) dengan jelas menunjukkan keutamaan ilmu, karena Allah Ta’ala tidak pernah memerintahkan nabi-Nya untuk meminta tambahan sesuatupun selain ilmu. Yang dimaksud dengan ilmu disini adalah ilmu syar’i yang memberi faedah serta ma’rifah terhadap urusan dien  yang wajib diketahui oleh setiap mukalaf; dalam ibadahnya, muamalahnya, ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya dan kewajiban menegakkan perintah-Nya serta mensucikan-Nya dari kekurangan (sifat ketidak sempurnaan). Inti dari semua ilmu tersebut adalah ilmu tafsir, ilmu hadits dan fiqih.” [9]

(3)- QS. Al Kahfi 18:64-65

‘Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami Musa berkata kepada Khidhr:”Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu”[10]

Ayat ini menjelaskan keutamaan ilmu, di mana Nabi Musa seorang nabi ulul azmi rela belajar kepada orang yang lebih rendah derajatnya dibanding dirinya, karena mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh nabi Musa.

(4)- QS. Ali Imran 3:18

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[11]

Ayat ini menerangkan keutamaan ilmu, dengan beberapa alasan ;

-          Allah Ta’ala menjadikan para ulama sebagai saksi atas hal yang paling agung, yaitu urusan tauhid. Pemilihan para ulama sebagai saksi, dan bukan manusia lainnya menunjukkan keutamaan ilmu dan ulama.

-          Allah Ta’ala mensejajarkan kesaksian para ulama dengan kesaksian Alloh dan para malaikat-Nya.

-          Hal ini menunjukkan adanya rekomendasi (pengakuan) Allah Ta’ala atas keadilan dan keamanahan para ulama, karena Allah Ta’ala tidak akan mengangkat saksi kecuali mereka yang telah teruji keadilan dan sifat amanahnya.

-          Allah ta’ala bersaksi dengan diri-Nya sendiri, kemudian dengan makhluk pilihan yaitu para malaikat, kemudian dengan para ulama. Hal ini menunjukkan mulianya sebuah ilmu.

 

(5)- QS. Az Zumar 39: 6

Katakanlah,”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. [12]

Adakah orang yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,[13]

Dalam ayat-ayat ini, Allah Ta’ala menegaskan bahwa tidak sama antara orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Orang yang tidak berilmu bagaikan orang yang buta, tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.

Keutamaan Ilmu dalam As Sunah (Hadits)

 

(1)- Hadits Aisyah Rhadiyallahu ‘anha

Barang siapa mengada-adakan hal baru yang tidak ada perintahnya dalam urusan agama ini, maka hukumnya tertolak.”[14]

Hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu, karena :

-          Secara langsung teks hadits menetapkan bahwa setiap amalan yang tidak sesuai dengan dalil syar’i adalah tertolak, baik urusan ibadah maupun mu’amalah.

-          Secara tidak langsung, menyatakan wajibnya mempelajari ilmu sebelum beramal. Jika setiap amalan tidak sah dan tidak akan diterima bila tidak sesuai dengan tuntunan syariah, maka wajib hukumnya mempelajari hukum syariat dalam setiap amalan yang akan dikerjakan.

 

(2)- Hadits Mu’awiyah rhadiyallahu ‘anhuma

Barang siapa yang dirinya dikehendaki kebaikan oleh Allah Ta’ala, Allah Ta’ala akan menjadikannya faqih (paham) agama. Saya hanya orang yang bertugas membagi, sedang Allah-lah yang memberi. Umat ini akan tetap tegak di atas perintah Allah Ta’ala, orang-orang yang menyelisihi mereka tidak akan memberikan madlorot sedikitpun, hingga datangnya hari kiamat.

Hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu:

-          Karena bertafaquh fid dien merupakan salah satu tanda bahwa Allah Ta’ala menginginkan kebaikan pada diri seorang hamba. Dengan tafaquh fi dien, seorang hamba bisa memperbaiki amalnya sehingga sesuai dengan tuntunan syariat. Ia juga bisa mengarahkan orang lain dengan ilmunya, sehingga ia akan mendapatkan pahala mengarahkan orang kepada kebaikan.

-          Hadits ini juga menunjukkan bahwa para ulama yang mengamalkan ilmunya akan tetap ada sampai datangnya keputusan Allah Ta’ala, yaitu bertiupnya angin lembut sebelum hari kiamat yang akan menjadi pertanda meninggalnya seluruh orang yang beriman.

 

(3)- Hadits Abu Darda’ Rhadiyallahu ‘anhu

Dari Abu Darda’ bahwasanya ia mendengar Rasulullah bersabda,” Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah Ta’ala akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat menaungkan sayap-sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan usahanya mencari ilmu. Sesungguhnya segala apa yang ada di bumi dan di langit, sampai ikan di lautan, memintakan ampun bagi seorang ‘alim (orang yang berilmu). Kelebihan (keutamaan) seorang ‘alim atas seorang ‘abid (ahli ibadah) bagaikan keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dinar. Mereka hanya mewariskan ilmu, maka barang siapa mengambil ilmu mereka berarti telah mengambil bagian yang cukup.”[15]

Hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu, dari beberapa tinjauan :

-          Ilmu adalah warisan para nabi, dan para ulama adalah para pewaris nabi dalam hal  menyampaikan ilmu dan memutuskan perkara di tengah masyarakat dengan berdasar ilmu.

-          Seluruh makhluk di bumi dan langit memintakan ampunan untuk seorang ulama.

-          Menuntut ilmu merupakan salah satu jalan yang mempermudah menuju surga.

 

(4)- Ilmu adalah kepemimpinan dan kekuasaan yang sebenarnya, karena dengan ilmu para ulama memutuskan perkara di tengah masyarakat, menyatakan mana yang benar dan mana yang salah.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mencabut ilmu itu sekali cabut dari hamba-hamba-Nya, melainkan mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sampai ketika Allah Ta’ala tidak menyisakan seorang ulama, masyarakat akan mengangkat pemimpin yang bodoh. Mereka akan ditanya dan menjawab dengan tanpa landasan ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” [16]

Hadits ini memerintahkan untuk mendahulukan para ulama sebagai pemimpin dan melarang mengangkat orang-orang yang tidak berilmu sebagai pemimpin. Inilah yang senantiasa dilaksanakan para shahabat berdasarkan pada petunjuk Rasulullah. Mereka senantiasa mengangkat orang yang berilmu sebagai pemimpin, sekalipun ia seorang rakyat jelata.

Dari Amir bin Watsilah bahwa Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan khalifah Umar bin Khathab di daerah ‘Usafan. Adalah Umar mengangkat Nafi’ sebagai gubernur Makkah. Umar bertanya,” Siapa yang engkau tunjuk untuk menggantikanmu memimpin penduduk Makkah?” Nafi’ menjawab, ”Ibnu Abza” Umar bertanya,” Siapa itu Ibnu Abza ?” Nafi’ menjawab,” Salah seorang mantan budak kami” Umar bertanya,” Engkau mengangkat mantan budak sebagai penggantimu?” Nafi’ menjawab,” Karena ia seorang yang hafal Al Qur’an dan menguasai ilmu faraidz (ilmu tentang hukum-hukum harta warisan).“ Umar berkata,” (kalau begitu, ia pantas menggantikanmu). Nabi kalian telah bersabda ; ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala akan meninggikan derajat beberapa kaum dengan Al Qur’an ini, dan merendahkan derajat beberapa kaum dengan Al Qur’an ini.”[17]

(5)- Orang yang mengajarkan ilmu akan mendapatkan pahala dari ilmu tersebut baik semasa ia masih hidup maupun sesudah ia mati, selama ilmu itu masih diamalkan oleh orang-orang yang menerima ilmu darinya.

Dari Abu Mas’ud Al Anshari bahwasanya Rasulullah bersabda,” Barang siapa menunjukkan orang lain kepada kebaikan, baginya pahala seperti pahala orang yag mengerjakan kebaikan itu.” [18]

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda,” Jika seseorang meninggal, seluruh amalnya terputus kecuali tiga amalan ; shadaqah yang terus mengalir, ilmu yang diambil manfaatnya dan seorang anak shalih yang mendoakan kebaikan (bagi kedua orang tuanya).” [19]

(6)- Ilmu syar’i yang diamalkan akan menjaga pemiliknya dari segala fitnah (huru hara dan bencana) yang  terjadi sebelum hari kiamat.

Dari Anas bin Malik ia mendengar Rasulullah bersabda,” Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah ; sedikitnya ilmu, merajalelanya kebodohan, merajalelanya perzinahan, banyaknya kaum wanita dan sedikitnya kaum laki-laki sehingga 50 orang wanita ditanggung oleh seorang laki-laki.” [20]

Perkataan Para Ulama Tentang Keutamaan Ilmu

 

1-      Shahabat Ali bin Abi Thalib berkata :

Ilmu itu lebih baik dari harta. Harta yang menjaga adalah engkau, sedangkan ilmu justru menjagamu. Harta akan habis bila dibelanjakan, namun ilmu justru semakin bertambah dengan dibelanjakan (diajarkan, dikeluarkan dari otak). Ilmu itu penguasa, sedangkan harta dikuasai. Orang yang menumpuk-numpuk harta telah mati padahal mereka masih hidup, sedangkan para ulama masih hidup selama waktu masih berjalan. Badan para ulama bisa saja tidak ada (karena sudah mati), namun pengaruh mereka masih ada dalam hati manusia.”

2- Shahabat Mu’adz bin Jabal berkata :

Hendaklah kalian senantiasa berilmu, karena menuntut ilmu adalah ibadah, mengetahui ilmu adalah khasyah (rasa takut kepada Allah Ta’ala), membahas ilmu adalah jihad, mengajarkan ilmu kepada orang yang belum mengetahui adalah shadaqah, mengulang-ulang ilmu adalah bertasbih. Dengan ilmu, seseorang mengenal Allah, beribadah kepada-Nya, mengagungkan dan mentauhidkan-Nya. Allah Ta’ala mengangkat derajat beberapa kaum dengan ilmu, dengan menjadikan mereka sebagai para pemimpin yang memberi petunjuk masyarakat dan menjadi pengambil keputusan di antara mereka.”

 


[1] At Taubah : 122

[2] Qs. An Nahl:43

[3] Shohih. H.R. Ibnu Abdi baar. Jami’us Shoghir, Asy Syuyuthi: 5264

[4] Ilmu dan ulama`, terjemahan dari buku “Al `Ilmu wa al Ulama`, Abu Bakar Jabir al Jaza`iri, Pustaka Azam. Jakarta. cet ke-1, 2001.

[5] Al Jami’ li bayanil ilmi wa Fadlihi. Ibnu Abdil Bar: 1/11).

[6] Kitabul Ilmi, al Khaitsamah An Nasa`i, 9).

[7] QS. An Nisa’ : 113

[8] QS Thaha : 114

[9] [Fathul Bari Syarhu Shahih Bukhari 6/188].

[10] QS. 18:64-65

[11] QS Ali Imran : 18

[12] Qs az-Zumar : 06

[13] QS. Ar Ra’du 13:19

[14] HR.  al-Bukhori , Shahihul Bukhari, Kitab : al-Ilmu, Bab : Man Yuridillah Khoiran Yufaqqihhu, no:71,

[15] HR Tirmidzi, Jamiut Tirmidzi, Kitab : al-Ilmu, Bab : Fie Fadlil Fiqh Alal Ibadah, No : 2682,

[16] HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Ad Darimi

[17] HR. Muslim, Ibnu Majah

[18] HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad

[19] HR. Muslim

[20] HR. Bukhari

 


[1] Qs. al Mujadalah:11

[2] Hr. Bukhori , Shahihul Bukhari, Kitab : al-Ilmu, Bab : Man Yuridillah Khoiran Yufaqqihhu, no:71) dan Muslim, Shahih Muslim, Kitab : az-Zakat, Bab : an-Nahyi Anil Mas’alah, No : 2389

[3] Lisanul Arab, Ibnul Mandzur 1/870

[4] Al Munjid:527

[5]  Mu’jamul Wasith : II/124

[6] Fadhlul Ilmi Salaf `ala al Kholaf, Ibnu Rojab;30).

[7] (al Amru bil ittiba`, As Suyuthi, 309).